Kalau layak, mengapa menolak?

Adzan Zuhur baru saja selesai berkumandang saat saya bersama beberapa orang kolega sampai di rumah makan kenamaan di daerah Padang Panjang tersebut. Setelah turun dari mobil, kami langsung masuk dan segera membooking tempat di pojok yang sepertinya asri sekali. Mejanya cukup untuk kami berempat, ditambah lagi dengan pemandangan sekumpulan ikan di dalam kolam persis di bawah lesehan tempat kami duduk.

Karena memang sudah waktunya untuk shalat, kami memutuskan untuk shalat terlebih dahulu sebelum menikmati santap siang. Musholla yang sederhana, kecil dan bersih, seperti kebanyakan musholla di rumah makan ternama lainnya, menjadi lengkap dengan airnya yang sejuk.

Selesai berwudhu, langsung saja kulangkahkan kaki ini ke dalam musholla. Hmm… kosong, tidak ada orang. Mungkin karena azan baru saja selesai dikumandangkan di masjid sekitar. Terlintas pikiran untuk memulai saja sholat Zuhur sendirian, syukurnya, bisikan ini segera terkikis dan tidak sempat singgah dalam waktu yang cukup untuk mempengaruhi diri. Rasanya agak ‘mubazir’ saja kalau shalat sendiri, padahal 27 itu jauuuuuuuuuuuh lebih besar dibandingkan 1. Betul bukan…?

Akhirnya, seorang bapak paruh baya itu masuk juga. Muka dan tangannya yang masih basah menandakan bahwa ia baru saja selesai berwudhu. Buru-buru, sebelum ia mengangkat tangannya untuk ber-takbiratul ikram, langsung saja saya labrak

Saya            : Pak, sholat jama’ah wak pak…? –> Pak, sholat jama’ah kita yuk Pak
Sang Bapak  : Hmm… Jadih… –> Hmm… baiklah
(seraya menurunkan tangannya yang sudah setengah diangkat untuk memulai shalat)

Akhirnya kami bersiap untuk shalat jamaah, berdua saja (sampai kemudian ada seorang jama’ah perempuan yang ikut). Sebelum saya mengumandangkan iqomah, sang Bapak mempersilahkan saya untuk menjadi imam dengan memberikan isyarat tangannya. Merasa agak segan karena beliau sepertinya adalah orang yang tinggal tidak jauh dari sana *yang jika demikian tentu lebih berhak untuk mengimami (atau mungkin malah pengelola musholla *garin), saya pun membalas isyarat tangannya dengan isyarat yang sama hingga kemudian beliau maju ke depan untuk menjadi imam.

belajar shalat

Belajar shalat itu harus dimulai sejak kecil

“Allahuakbar…”
Takbir pun dimulai… Saya awali shalat dengan niat ikhlas di hati; membaca bacaan shalat sebagaimana biasa.

Tiba-tiba, alangkah tersentaknya hati ini ketika kemudian dari bibir sang imam terdengar bacaan yang cukup nyaring.
“Bismillaahirrohmaanirrohiim…
“Alhamdulillahirobbil ‘alamin…”
…dst

*gedubrak…

Setelah menyelesaikan Al Fatihah dengan suara yang lantang, sang bapak melanjutkan bacaannya dengan salah satu surat pendek dengan bacaan khas orang lagi belajar ngaji *banyak salahnya… Innaalillahi…

Perasaan saya sudah campur aduk dari awal shalat ketika mendengarkan irama “Bismillahirrohmanirrohim” khas shalat maghrib, isya, atau subuh. Sepertinya sang Bapak tidak tau kalau bacaan shalat Dzhuhur adalah di-sir-kan (tidak dijaharkan/tidak dibaca dengan suara yang dapat didengar oleh orang lain). Dan Bapak ini sepertinya juga tidak tau bahwa ketika bangkit dari rukuk, bacaannya adalah “Sami’allhu li man hamidah”, bukan “Allahuakbar”.

Dan rakaat kedua pun kami lalui dengan kondisi yang sama: Alfatihah yang nyaring, bacaan surat pendek yang juga nyaring dan salah-salah, plus bacaan Allahuakbar yang menggantikan posisi “Sami’allahu li man hamidah”. Dan sebelum shalat usai, saya sangat khawatir kalau sang imam akan membuat kesalahan yang lain: menambah rakaat menjadi 5, mungkin. Waduh…

Akhirnya, sepanjang shalat saya sibuk menyalahkan…
Bukan menyalahkan sang bapak yang masih harus sangat banyak belajar tentang shalat *khususnya tentang shalat jama’ah.
Bukan pula menyalahkan keadaan
Tapi MENYALAHKAN DIRI SENDIRI… Ya, diri ini…

Na’udzubillahi…
Faghfirlii Yaa Rahmaan…

++++++31 Juli 2010, dalam suatu perjalanan Padang-Bukittinggi
+++++repost from My Yahoo! Blog

127 thoughts on “Kalau layak, mengapa menolak?

  1. wah parah juga ya salahnya, tapi mudah2an si bapak sekarang udah tahu dan lebih paham. jadi tidak melakukan kesalahan lagi.. kasian juga kan dianya kalo gak tahu terus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s